Kampanye tanpa Program(budaya politik yang yang memprihatinkan)
Oleh: Sopyan Maolana Kosasih
Miris, adalah kata yang pertama kali muncul ketika melihat gelombang pamer muka dimana-mana. Jalan raya, bundaran, kios, bahkan di tengah pohon tinggi menjulang. Semuanya tanpa maksud dan makna yang jelas atas perilaku dan pemasangan media kampanye tersebut. Muka tersenuyum manis dengan latar belakang mohon doa restu serta contreng nomor sekian adalah tipikal yang mudah ditemukan di setiap gambar yang mejeng di mana-mana. Saya malah curiga, jangan-jangan mereka mencetak poster-poster itu dari satu percetakan serhingga mereka hanya ditawari form isian dan menyerahkan photo. Akibatnya, keluarlah pola, gaya, dan cara yang sama.
Rendahnya kreatifitas dalam mempromosikan dirinya tidak lepas dari rendahnya kemampuan dan penguasaan ilmu serta wawasan politik seseorang. Lihat saja, banyak para caleg yang tiba-tiba sibuk bikin facebook padahal ia juga belum punya e-mail bahkan tidak pernah bersentuhan dengan komputer. Sepertinya hal tersebut tidak jadi masalah jika ia memiliki tim yang solid. Tapi betapa mahalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk dapat melenggang dan menduduki kursi empuk yang saat ini terus menerus diincar oleh KPK. Masih banyaknya para caleg yang minim dalam dunia politik tak bisa dipisahkan dari kejar tayang para partai yang baru muncul. Dengan iming-iming caleg No. 1 walau akhirnya berubah menjadi suara terbanyak cukup memikat para voluter dan kaum-kaum oportunis untuk mengadu nasib. Bayangkan, apa yang akan diperjuangkan untuk rakyat jikalau ia terus menerus memperjuangkan dirinya, keluarganya, dan kepentingan partainya. Jadi, wakil siapakah mereka?
Jika ke depan situasi seperti ini tidak mengalami perubahan secara signifikan, akan muncul tradisi dan seolah-olah menjadi kekuatan hukum terhadap tata cara dalam pemilihan umum. Saya pribadi khawatir jangan-jangan mereka tidak mengetahui UU Pemilu terbaru. Hal itu terjadi karena sampai saat ini budaya instruksi dan petunjuk masih kuat tertanam dalam masyarakat kebanyakan. Korbannya, mereka harus rela kehilangan poster-poster yang sudah dibayar mahal untuk dicetak bahkan memasangnya dimana-mana. Saya pernah berdialog dengan caleg yang sudah terpampang namanya dimana-mana bahkan punya facebook. Ia adalah orang yang cukup terkenal dan lebih memilih dunia politik untuk kepopulerannya. Saya melihat bahwa keinginan untuk mendekati konstituen itu rendah sekali. Bahkan ia menolak untuk melakukan kegiatan pelayanan kepada masyarakat di daerah pilihannya hanya karena program yang saya sampaikan bukan bidangnya. Sungguh mengenaskan, lalu apa yang ia lakukan kalau hanya berpikir semuanya harus sesuai dengan bidang saya.
Respon seperti itu semoga tidak dilakukan oleh setiap caleg yang ada. Tapi, kalau melihat gejala itu cukup tinggi. Bayangkan, Obama saja bisa datang ke rumah-rumah dan mempromosikan dirinya sebaik-baiknya. Ia tidak melulu pamer poster atau jejaring di internet. Ia bersama tim suksesnya melakukan berbagai cara untuk bisa bertemu konstituen, berkomunikasi dan menjelaskan misi-visi partai, serta mengajak untuk memilih dirinya. Mudah-mudahan di sisa waktu yang ada para caleg dapat merubah orientasi kampanyenya menjadi lebih merakyat dan fokus kepada apa yang akan ia lakukan untuk membela rakyat, bangsa, dan negara. Namun harus diingat bahwa semua itu memerlukan energi yang besar yang tidak cukup dengan hanya promosi bagi-bagi sembako, kalender, atau poster. Banyak hal ang bisa dikerjakan untuk melakukan simbiose mutualisma bersama rakyat.
Saya ingin juga mengingatkan kepada para caleg 2009, tunjukkan program-program anda kepada masyarakat jika nanti terpilih menjadi anggota dewan. Tunjukkan di sini buka bermakna membuat catatan kecil yang dibagi-bagi kepada masyarakat namun tunjukkan kepada masyarakat sehingga masyarakat merasakan program-program itu dari sekarang. Kalau itu muncul dan rakyat sudah merasakan kerja keras kita, maka Bapak/Ibu caleg tidak akan kesulitan untuk mencari juru kampanye. Karena masyarakat binaan itulah yang akan menjelaskan semuanya kepada semua orang bahwa anda adalah orang yang kafabel dan bisa dipercaya. Dalam pengamatan saya, cara-cara cerdas seperti itu akan memiliki nilai jual tinggi.
Saya menulis ini hanya ingin menyampaikan keprihatinan atas aliran dana sia-sia yang digunakan untuk kampanye yang tidak dirasakan oleh rakyat. Rakyat tidak akan kenyang dengan teriakan dan janji-janji manis di televisi. Rakyat tidak akan merasa terbantu jika hanya disuguhi senyuman manis di poster-poster dan baligo yang mengganggu keindahan kota. Mungkin mereka akan memilih jika anda mengeluarkan uang ratusan juta dan dibagi-bagi menjelang hari pemilihan. Namun, sanggupkan menyediakan uang dalam jumlah besar untuk melakukan perjudian? Yakinkah bahwa setiap orang yang diberi uang akan memilih anda?
Sebagai guru , hal ini jelas menjadi keprihatinan cukup besar. Bayangkan, betapa sistem ketata negaraan yang ada di luar sana seolah menjadi begitu senjang. Bukankah mereka juga akan belajar dan melihat apa yang terjadi di masyarakat. Mereka saat ini tidak hanya belajar dari sekolah saja. Bahkan dalam salah satu metodologi pendidikan pun pendekatan contextual teaching adalah salah satu pendekatan yang terus dianjurkan. Pendidikan kewarganegaraan jelas mengacu kepada perilaku rakyat, aparat, serta semua aspek yang terkait dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Jadi, mari bersama-sama membangun sistem negara ini dengan cerdas. Hilangkan ego pribadi, keluarga, kelompok, atapu partai.
Rakyat semakin pintar, jadi berpikir dan berbuatlah dengan lebih cerdas. Jadikan bangsa ini bangsa yang hebat dengan segala macam potensi yang ada. Pemilu dibuat bukan untuk ajang suap menyuap rakyat lalu anda tertawa dalam gelimang harta setelahnya. Saatnya anda maju semata-mata untuk membela dan meyakinkan bahwa tidak ada seorangpun rakyat di negara ini yang kelaparan, tidak ada seorangpun anak yang tidak pergi kesekolah karena tidak memiliki biaya, tidak ada seorangpun di negeri ini yang teraniaya. Jadilah pejuang yang akan dikenang bukan jadi pejuang yang akan dikecam. Rakyat melihat, Tuhan bahkan Maha Melihat.
Semoga Tuhan meridhoi perjuangan anda semuanya.
*)Guru SMP Negeri 3 Kota Bogor www.sopyanmk.wordpress.com)
July 22nd, 2009 at 09:09
ya kalau ga percaya, ga usah dipilih, pak.
July 22nd, 2009 at 09:50
Setuju Pak..
July 22nd, 2009 at 10:58
Para pengamat Politik yang slalu muncul di TV slalu mengkritik apabila kampanye tanpa ada program tetapi ketika mereka mejadi tim sukses merekalah yang melakukan kampanye pencitraan dan yang lebih hebatnya pencitraan ini bernilai miliaran rupiah… spertinya mereka berpikir bukan program kerja yang penting “gagah dan berwibawa” tetapi memang rakyat Indonesia masih lebih menyukai citra daripada program kerja…
Salam Kenal
July 22nd, 2009 at 11:37
baru sadar boss, kalo di negeri ini seringkali ke-seragam-an terjadi, miskin ide, cuma pengelola iklannya saja yg cedas . . . he 9 X